Tiga Kebiasaan Aneh Terkait BPA di Indonesia

Featured Image

Isu Bahaya BPA pada Galon Polikarbonat: Apakah Benar-Benar Berbahaya?

Beberapa waktu terakhir, isu mengenai bahaya Bisphenol A (BPA) pada galon guna ulang polikarbonat (PC) sering muncul di berbagai media. Narasi yang berkembang terkadang menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan masyarakat, seolah-olah penggunaan galon guna ulang membawa ancaman nyata terhadap kesehatan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan dari cara isu ini disampaikan.

Data Riset yang Tidak Lengkap

Salah satu kejanggalan utama adalah data riset yang tidak ditampilkan secara utuh. Banyak publikasi tentang BPA hanya menyebut bahwa senyawa tersebut berbahaya tanpa menjelaskan angka migrasi aktual dan membandingkannya dengan batas aman yang ditetapkan oleh organisasi seperti WHO, EFSA, atau FDA. Padahal, lembaga-lembaga tersebut sepakat bahwa BPA merupakan senyawa kimia, tetapi pelarangan penggunaannya sebagai kemasan pangan hanya dilakukan untuk botol bayi.

Hal ini dikarenakan penggunaan botol bayi sering kali melibatkan pemanasan yang melebihi 100 derajat Celsius, sehingga dapat memicu migrasi BPA. Sementara itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa migrasi BPA dari galon polikarbonat jauh di bawah ambang batas aman. Kejanggalan ini menciptakan kesan bahwa informasi disampaikan secara sepotong-sepotong, sehingga masyarakat menjadi panik tanpa pemahaman ilmiah yang lengkap.

Doktor sains teknologi plastik dari Universitas Teknologi di Berlin, Jerman, Wiyu Wahono menjelaskan bahwa kemasan ber-BPA pada perlengkapan bayi dilarang karena sensitivitas tubuh anak-anak yang lebih rendah. TDI (Toxicity Daily Intake) dihitung berdasarkan berat badan setiap konsumen. Bagi orang dewasa, mereka harus mengonsumsi 48 liter air atau dua galon per hari agar BPA benar-benar berdampak bagi tubuh.

Penggunaan Galon Gunak Ulang Selama Puluhan Tahun

Kejanggalan kedua adalah mengabaikan fakta bahwa galon guna ulang telah digunakan selama puluhan tahun tanpa menimbulkan masalah apa pun. Galon PC bukanlah barang baru; produk ini telah digunakan di seluruh dunia selama lebih dari 30 tahun, termasuk di negara-negara dengan regulasi pangan yang sangat ketat seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

Pakar Teknologi Pangan Hermawan Seftiono menegaskan bahwa hingga saat ini belum pernah ada catatan kasus penyakit yang disebabkan oleh mengonsumsi air minum dari galon guna ulang PC. Ia menekankan bahwa kemasan galon polikarbonat dan tutupnya aman digunakan untuk produk AMDK.

BPOM dan Kemenperin juga telah menegaskan bahwa penggunaan galon guna ulang aman untuk dipakai sebagai kemasan pangan. Fakta-fakta ini membuktikan bahwa isu bahaya BPA pada galon PC lebih nyaring dari bukti di lapangan.

Narasi Lingkungan yang Diabaikan

Kejanggalan ketiga adalah narasi keberlanjutan dan lingkungan yang tidak pernah menjadi bahasan. Padahal, galon guna ulang terbukti jauh lebih ramah lingkungan karena bisa digunakan ratusan kali sebelum akhirnya dipensiunkan. Jika isu BPA digunakan untuk mendorong konsumen beralih ke galon sekali pakai, maka akan terjadi paradoks, yakni meningkatnya sampah plastik dan beban lingkungan.

Penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) FEB UI menyatakan salah satu alasan konsumen memilih galon guna ulang adalah untuk membantu meminimalisir dampak lingkungan. Riset ini menunjukkan bahwa tanpa penggunaan galon guna ulang, penggunaan kemasan sekali pakai akan meningkat, yang pada akhirnya meningkatkan timbulan sampah hingga 770.000 ton per tahun.

Akibatnya, emisi sampah plastik akan bertambah hingga 1.655.500 ton per tahun. Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai. Dengan demikian, isu BPA tidak hanya tidak berdasar, tetapi juga berpotensi merusak upaya-upaya lingkungan yang sudah ada.

Comments

Popular posts from this blog

Japan Firms Leverage Satellites and AI to Locate Abandoned Homes for Sale

GEN Nigeria and Others Target Indigenous Firms with New Tech Fees

I Was Healthy Until a Dirty Habit Stopped My Heart